This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, 4 November 2013

MENGEMBALIKAN KEMURNIAN PROFESI GURU


Oleh: Dian Marta Wijayanti
Dimuat di Opini Koran Barometer 31 Oktober 2013

Guru adalah profesi yang mampu mengnatarkan seseorang menuju puncak keemasannya. Guru zaman dulu dan sekarang memiliki perbedaan signifikan. Jika dulu guru hanya dipandang sebelah mata, namun sekarang profesi guru seakan mampu menjadi impian semua orang. Hampir setiap orang ingin menjadi guru, baik itu guru SD, SMP, SMA, maupun gurunya calon guru alias dosen. Namun sudahkah semuanya memahami apa makna guru sejati?
Ungkapan dalam bahasa Jawa bahwa guru itu harus bisa digugu lan ditiru seakan sudah banyak dilupakan. Apalagi ditambah kata-kata bijak Ki Hajar Dewantara Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Dapat dikatakan saat ini profesi guru hanya dianggap sebagai tujuan bukan alat. Ketika guru hanya dianggap sebagai tujuan, maka setelah menjadi guru, pasti hanya status itu didapatkan. Namun jika guru dianggap sebagai alat, maka perilaku untuk melakukan pekerjaan baik lebih banyak akan terwujud. Suatu fenomena di masyarakat memperlihatkan kemurnian profesi guru luntur. Masih adakah guru murni, sejati dan berkualitas?

Guru Ideal
Guru harus ideal, berkualitas, dan murni dalam menjalankan tugas pendidikannya. Menjadi guru tidak cukup hanya menguasai empat kompetensi pendidik dan delapan keterampilan mengajar. Tapi, guru juga harus mampu membuat siswa merasa nyaman dan rindu akan ilmu pengetahuan. Kenyamanan siswa terhadap guru akan menunjukkan bahwa guru tersebut telah mampu menjadi guru dirindukan. Ketika siswa sudah rindu terhadap gurunya, dapat dipastikan mereka akan dengan senang menerima materi yang diberikan guru. Kenyamanan seorang siswa tentu membuat siswa lebih mudah memahami daripada baru mendengar nama gurunya saja sudah merasa takut.
Guru sejati akan mendidik dengan hati. Kemurnian seorang guru memang tidak mudah terlihat. Namun secara umum dapat diketahui dalam sikap guru-guru dalam menjalankan tugasnya. Guru mendidik dengan hati tidak akan menghabiskan durasi baginya untuk memberikan materi dan soal-soal latihan saja. Guru cerdas akan  mengajarkan siswa bagaimana cara menghidupkan keinginan untuk aktif berprestasi. Apalagi, setiap anak memiliki hak untuk tumbuh menjadi orang besar dan sukses. Tugas guru di sini adalah membantu mereka untuk menemukan jalan termudah sesuai aturan yang ada. Bukan malah membuat siswa merasa sekolah itu hanya formalitas yang di dalamnya tersimpan kesulitan-kesulitan dunia, kesulitan mengerjakan PR, tugas-tugas sekolah, tes, praktikum, dan lainnya.
Guru sejati menjadi teladan bagi siswanya. Cara pandang siswa terhadap guru yang mengajar tentu banyak makna. Guru yang dicintai siswanya akan dinanti-nantikan kehadirannya di dalam kelas. Sedangkan guru yang tidak diinginkan siswa biasanya hanya dianggap pajangan di ruang belajar. Bukan berarti siswa itu tidak sopan. Tapi hal tersebut merupakan respon langsung siswa terhadap gurunya. Siswa memiliki hak untuk menilai karena bagaimanapun mereka lah yang merasakan dampak pembelajaran dari guru. Pada dasarnya siswa menyukai pembelajaran serius tapi santai. Mellaui pembelajaran menyenangkan, siswa akan lebih banyak mendapatkan pengalaman bermakna.

Guru Abal-Abal
Dewasa ini banyak ditemukan “guru abal-abal” di lingkungan pendidikan. Bagaimana tidak dikatakan sebagai guru abal-abal, setiap hari Senin mereka datang ke sekolah dengan gagah berbaju keren. Setiap awal bulan mereka mendapatkan gaji cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan ketika menilik para guru yang sudah mendapatkan sertifikasi, pergi ke sekolah dengan mengendarai mobil sudah menjadi hal biasa. Jika dikalkulasi, sepasang suami istri dengan profesi guru memiliki gaji pokok Rp 2.800.000 per bulan. Jika keduanya sudah bersertifikasi, maka dapat diketahui dalam waktu sebulan gaji diterima pasangan tersebut kurang lebih 11.200.000. sangat mudah bagi mereka untuk berganti kendaraan bermotor dalam dua bulan sekali. Namun sudah sesuaikah dengan keterampilan dimiliki?
Sertifikasi adalah penghargaan bagi mereka yang profesional dengan profesinya. Begitu pula dengan sertifikasi guru. Dari proses penilaian portofolio sampai sampai sekarang muncul program PLPG. Terlihat sekali hampir semua guru antusias untuk mengejar sertifikat sertifikasi tersebut. Namun sangat disayangkan ketika antusias mengejar materi tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan kompetensi. Bahkan di antara para guru yang telah lulus tersertifikasi, banyak sekali kecurangan yang terjadi. Kecurangan yang dimaksudkan disini adalah kecurangan dalam menipu penghargaan negara.
Sudah selayaknya seorang yang mendapatkan sesuatu, berarti mau melakukan sesuatu untuk orang lain yang membantunya. Namun yang terjadi justru berbanding terbalik. Ketika sudah mendapatkan sertifikasi, banyak guru malah ongkang-ongkang kaki seakan berada di puncak kejayaannya. Padahal justru sertifikasi yang diperoleh seharusnya bisa mnejadi pemacu untuk meningkatkan kinerja kerja.

Solusi
Mengembalikan kemurnian profesi seorang guru tidaklah mudah. Semuanya telah bercampur dalam sistem yang sulit untuk dipecah satu per satu. Namun usaha preventif tetap bisa dilakukan minimal dari pribadi masing-masing individu. Pertama, melakukan profesi sesuai disiplin ilmu. Banyak sekali guru-guru abal-abal yang mendeklarasikan diri sebagai guru luar biasa. Padahal jika dilihat dari latar belakang pendidikan, banyak guru tidak linier. Misalnya, sarjana muda dari Jurusan Pendidikan Ekonomi mengajar siswa SD. Guru lulusan Pendidikan Matematika mengajar Bahasa Inggris. Tentu terlihat adanya kesenjangan di sini. Materi memang bisa dipelajari. Tapi kemampuan menguasai kelas dan mempelajari psikologis siswa tentu akan berbeda.
Kedua, setia dengan ilmu yang dipelajari. Banyak kondisi guru tidak setia dengan ilmu yang dipelajari. Sebagai contoh sarjana lulusan jurusan manajemen sampai jangka waktu yang lama tidak segera mendapatkan pekerjaan. Karena orangtuanya guru SD, lulusan tersebut diajak orangtuanya mengajar di SD dengan pengetahuan yang dimiliki. Cukup jelas hal tersebut mengorbankan siswa sebagai subjek belajar di sekolah.
Ketiga, mempertegas peraturan pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pemerintah perlu lebih selektif dalam menyeleksi calon pegawai negara. Salah satu caranya adalah dengan menghilangkan money politic di tengah seleksi CPNS seperti sekarang ini. Namun hal yang menjadi kunci dari guru ideal adalah hakikat kembali kekemurnian sebagai pendidik di dalam masyarakat. Semoga para guru sadar untuk selalu menjadi guru murni, berkualitas dan mencerdaskan Indonesia dengan spirit heroik bukan pecundang.

Wisudawan Terbaik Jurusan PGSD Unnes April 2013
Mahasiswa Pascasarjana Unnes
Guru Homeschooling ANSA School Semarang


Sunday, 3 November 2013

Mencegah Kemunculan Guru Abal-Abal

Oleh Dian Marta Wijayanti SPd
Guru Homeschooling ANSA School Semarang, Mahasiswa Pascasarjana Unnes

Saya tertarik membaca tulisan berjudul “Mengembalikan Khitah Guru” yang ditulis Fauzul Andim di rubrik ini (SM, 12/10/2013). Tulisan tersebut memberikan pencerahan bahwa guru harus menjadi teladan bagi siswa maupun masyarakat. Namun, apakah guru cukup menjadi teladan? Menurut penulis tidak. Mengapa? Karena guru harus sejati dan revolusioner. Artinya, yang perlu disoroti di sini juga spirit guru dalam menjalankan tugas pendidikannya.
Secara implisit, kita bisa menyimpulkan bahwa ada “guru sejati” dan “guru abal-abal”. Guru sejati adalah mereka yang mengajar dengan penuh keikhlasan dan semangat revolusioner mendidik bangsa ini. Sedangkan guru abal-abal adalah mereka yang hanya berorientasi pada “recehan” belaka, mengajar tanpa mendidik, serta hanya memenuhi presensi tanpa menjadi motivator sejati bangi siswa di sekolah.
Era global seperti ini memang menuntut guru untuk menjadi pragmatis. Artinya, guru butuh kesejahteraan dan kemakmuran. Dan hal itu salah satunya didapat dari gaji atau honor yang diperolah dari lembaga pendidikan. Di sisi lain, munculnya kebijakan sertifikasi menjadikan guru semakin salah niat dalam mengajar. Padahal, seharusnya kebijakan itu menjadikan semangat untuk mencerdaskan bangsa, bukan justru mengejar recehannya saja. Karena itu, hal ini harus segera diluruskan.
Dicegah
Yang jelas, guru abal-abal harus dihentikan dan dicegah dengan langkah preventif. Karena, apa artinya recehan, jika guru tak mampu menjalankan tugas sucinya. Maka, sebagai insan pendidikan, hal itu haurs disikapi guru dengan arif. Salah satunya adalah dengan mencegah munculnya guru abal-abal dengan beberapa solusi dan terobosan efektif. Setidaknya, ada beberapa cara untuk mencegah guru abal-abal dalam pendidikan. Pertama, memperketat penerimaan guru, baik sekolah berstatus swasta maupun negeri. Mengapa demikian? Karena, selama ini banyak orang masuk sekolah dan menjadi guru hanya “berbasis nepotisme”.  Artinya, asalkan punya kenalan pihak sekolah, maka akses masuk menjadi guru juga mudah.
Kedua, mempertegas aturan dan kriteria atau syarat menjadi guru. Selama ini, penerimaan guru tidak ketat dan kriterianya juga tak jelas. Maka, setidaknya guru memiliki empat kompetensi pendidik, yaitu pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Selain itu, guru juga harus menguasai delapan keterampilan mengajar, mulai dari keterampilan menjelaskan, bertanya, menggunakan variasi, memberi penguatan, membuka dan menutup pelajaran, mengajar kelompok kecil dan perseorangan, mengelola kelas, dan membimbing diskusi kelompok kecil.
Ketiga, guru harus linier, sesuai jurusannya. Artinya, jika guru itu lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), maka yang diajar harus SD, bukan SMP apalagi SMA. Namun, hal ini masih belum jelas, banyak fakta di lapangan, guru mengajar tidak sesuai bidangnya. Misalnya, lulusan Pendidikan Biologi mengajar materi Ekonomi, lulusan IPA mengajar Bahasa Indonesia, dan sebagainya.
Yang jelas dan utama adalah guru harus memenuhi kualifikasi akademik dan memenuhi kriteria plus-plus. Artinya, selama ini banyak guru pandai secara akademik saja, tapi dia tidak menjadi pendidik yang mampu memberikan motivasi dan spirit bagi siswanya. Inilah yang disebut “kemampuan plus-plus” yang jarang dimiliki guru. Bahkan, banyak guru killer yang ditakuti siswa. Jangankan ketemu dan diajar di kelas, para siswa melihat motornya di tempat parkir pun sudah merasa takut. Inilah yang harus dibenahi. Jangan sampai guru abal-abal menjadi perusak pendidikan di negeri ini.
Guru Revolusioner
Apakah cukup hanya dengan itu, agar guru menjadi penentu pendidikan di negeri ini? Tentu tidak. Yang tak kalah penting adalah perlunya guru revolusioner yang mengajar penuh motivasi tinggi dengan spirit memajukan pendidikan Indonesia. Menurut penulis, guru revolusioner memiliki beberapa ciri.
Pertama, dia selalu ikhlas mengajar tanpa pamrih. Artinya, dia tetap butuh kesejahteraan, tapi bukan itu tujuannya. Mengapa? Karena menjadi guru bukanlah tujuan, karena posisi guru hanyalah alat untuk berbuat baik lebih banyak lagi dalam rangka memajukan pendidikan Indonesia yang masih jauh dari harapan.
Kedua, memiliki jiwa heroik tinggi. Jika guru yang lain berangkat ke sekolah jam 7 pagi, maka dia datang di awal, bahkan sebelum para guru datang ke sekolah.
Ketiga, selalu menjadi dambaan siswa dan memberikan motivasi kepada siswa agar semangat dalam mencari ilmu, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Keempat, mampu mengajarkan kepada siswa, bahwa hidup tak sekadar menjadi manusia berilmu, tapi juga beriman dan beramal untuk bangsa.
Kelima, selalu mengajarkan kepada siswa bahwa hidup bukan sekadar “menjadi apa” (to be), tapi yang terpenting adalah “berbuat apa” (to do).
Inilah yang harus ditanamkan di hati para siswa. Dengan demikian, wajah pendidikan kita akan semakin berseri-seri, jika para gurunya sejati dan revolusioner, bukan abal-abal. Maka dari itu, jadilah guru sejati dan revolusioner, bukan abal-abal.


Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Suara Guru harian Suara Merdeka tanggal 19 Oktober 2013.

Sunday, 22 September 2013

Anak Spesial Berhak Belajar

Oleh: Dian Marta Wijayanti

Setiap anak hidup dalam keunikannya
Berlari, tertawa, menangis, bahkan kadang teriak mengganggu seharusnya tidak menjadi tembok bagi mereka untuk berekspresi. Namun norma serta etika yang berkembang di masyarakat mau tak mau mengatur kehidupan mereka untuk hidup secara wajar.

Pendidikan nonformal memang kalah pamor jika dibandingkan dengan pendidikan formal. Pendidikan formal sudah dikenal masyarakat dari tingkat pelosok sampai puncak perkotaan. Berbeda dengan keberadaan pendidikan nonformal. Hanya beberapa orang yang tau bahwa keberadaan pendidikan nonformal pun diakui oleh negara Republik Indonesia. 

Mengenal dan berada di antara anak-anak spesial tentunya menambah rasa syukur bagi semua orang. Apalagi jika kita bisa secaralangsung berperan di dalamnya. Sebuah amanah luar biasa ketika bisa menjadi tutor bagi anak-anak spesial ini. Bertemu dan memberikan sapaan hangat. Menyentuh tangan mereka dan mengajak doa bersama. Mendengar tuturan "Bismillahirrohmanirrohiiim" walau tidak jelas terucap. Mengantarkan mereka memegang pensil hingga tertancap ujung pensil di kertas putih kosong. Bahkan sampai lingkaran tak wujud lingkaran. Huruf A taktertulis A. Serta warna hijau pun tak lengkap hijau. Tapi ada satu tujuan pasti yang terlihat. Ya, mereka ingin belajar. Mereka ingin tau apa yang belum mereka tau. Mereka juga ingin merasakan hangatnya sapaan "Selamat pagi" dari ibu atau bapak guru selayaknya anak-anak seusia mereka.

Saturday, 14 September 2013

Ketika Mahasiswa Tak Punya Orientasi

Oleh: Dian Marta Wijayanti

Dilihat dari perspektif susunan bahasanya, kata mahasiswa terbentuk dari kata maha dan siswa. Maha diartikan sebagai besar dan siswa diartikan sebagai peserta didik. Sebagai peserta didik yang lebih besar tentunya mahasiswa berbeda dengan siswa. 

SD, SMP, SMA, patutlah seseorang mendapat sebutan siswa. Namun ketika perguruan tinggi sebagai pijakan belajar, predikat mahasiswa menjadi amanah yang harus dijaga.

Banyak orang yang belum paham beda siswa dan mahasiswa. Kata siswa masih erat kaitannya dengan anak yang masih menjadi tanggungjawab penuh orangtua. Uang saku dari orangtua. Makan dari orangtua. Bayar sekolah dari orangtua. Bahkan untuk sekadar biaya pacaran pun bersumber dari kantong orangtua. Semua itu masih terlihat wajar ketika siswa statusnya. 

"Mahasiswa" memberikan tugas yang berbeda bagi peserta didik. Selain dari faktor usia, mahasiswa merupakan proses bagi seseorang yang siap diterjunkan di masyarakat. Bukan berarti mahasiswa merupakan kondisi untuk melepaskan diri dari orangtua. Justru mahasiswa menjadi alasan bagi seseorang untuk lebih mendekatkan diri dengan orangtua. Mendekatkan diri disini bukan berarti bermanja-manja ria layaknya anak TK yang ingin dibelikan ice cream. Kedekatan yang sebenarnya dapat diwujudkan dengan bertanggungjawab. Selain itu juga keberhasilan yang dapat ditunjukkan kepada bapak-ibu di rumah. 

Fenomena yang banyak terjadi saat ini adalah banyaknya mahasiswa yang tidak memiliki kejelasan orientasi. Kuliah hanya kuliah. Ngekost hanya ngekost. Alasan bagi mereka untuk kuliah seakan masih sepi. Bahkan bisa dikatakan seakan hanya sekadar formalitas. Ya, formalitas setelah SMA maka kuliah. Setelah kuliah maka kuliah lagi. Tidak jarang apa yang dijalani tidak sesuai dengan keinginan yang sebenarnya akan dikembangkan pada kehidupannya mendatang. Padahal seperti yang diketahui bahwa kuliah merupakan tangga yang akan dilewati untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Bukan berarti tanpa kuliah kehidupan seseorang tidak bisa baik. Tapi paling tidak kuliah merupakan salah satu jalan untuk menimba ilmu dan mencari ilmu itu kewajiban bagi seluruh umat manusia.

Tentukan orientasimu sekarang, perjuangkan, dan siapkan diri menatap masa depan cerah.

Wednesday, 4 September 2013

HAKIKAT FILSAFAT ILMU

Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan.

Karakteristik berpikir filsafat:
1. menyeluruh
    pengetahuan tidak hanya dari dalam tapi juga dari luar
2. mendasar
    mencari pengetahuan berdasarkan kebutuhan
3. spekulatif
    bukan tanpa dasar

Objek materi filsafat
1. Objek materiil filsafat adalah segala sesuatu yang menjadi masalah filsafat
    a. hakikat Tuhan
    b. hakikat alam
    c. hakikat manusia
2. Objek formal filsafat adalah mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya sampai ke akar)
    tentang objek materi filsafat.

Pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup 3 segi:
1. Mana yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika)
2. Mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika)
3. Apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek? (estetika)

Cabang filsafat bertambah menjadi
1. Metafora, yakni teori tentang ada, hakikat keberadaan zat, hakikat pikiran, serta zat dan pikiran.
2. Politik, yakni kajian mengenai organisasi sosial/pemerintahan yang ideal.

Tuesday, 6 August 2013

LABSCHOOL PERFORMANCE DAY


Oleh: Dian Marta Wijayanti

“Berbagi dengan Sesama di Bulan Ramadhan”
Itulah tema yang dipilih oleh SD Labschool Unnes dalam menyemarakkan bulan Ramadhan 1434 H. 29-31 Juli 2013 menjadi tanggal yang spesial bagi siswa-siswi SD Labschool Unnes. Pada hari tersebut sebuah acara yang diberi nama Labschool Performance Day dilaksanakan. Menurut ketua panitia Rico, S.Pd menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter religius bagi siswa SD Labschool. 
Beberapa perlombaan mengisi kegiatan selama tiga hari ini. Untuk memperbanyak partisipan, panitia membagi perlombaan ke dalam dua kategori yaitu untuk kelas rendah (kelas 1-3) dan kelas tinggi (kelas 4-5). Pada hari Senin (29/07/2013) kelas rendah mengikuti lomba hafalan surat Al Fatihah, lomba wudhu, dan hafalan doa-doa harian. Sedangkan kelas tinggi mengikuti lomba kaligrafi, lomba memakai sarung, dan hafalan surat-surat pendek.
Hari kedua, Selasa (30/07/2013) tidak kalah dengan hari pertama. Pada hari kedua siswa kelas rendah diberi kesempatan untuk menonton video cerita religi di aula. Sedangkan kelas tinggi masih hangat bersama kompetisi-kompetisi lain yaitu lomba sholat Subuh+Qunut, lomba tartil Al Qur’an, dan lomba pidato. Pelaksanaan lomba-lomba ini diharapkan mampu memberikan pembiasaan bagi siswa agar berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebagaimana yang tersebut dalam Surat Al Baqarah ayat 148
(١٤٨)وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya :
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.( Q.S Al-Baqarah : 148 )
Kegiatan Labschool Performance Day ditutup dengan performance para pemenang lomba dan kultum sambil menunggu waktu berbuka puasa (khusus siswa kelas 4-6). Dalam situasi kekeluargaan siswa bersama guru melaksanakan buka bersama serta sholat maghrib berjamaah di sekolah. Tidak hanya itu, siswa juga diajak tadarus dan sholat tarawih yang dipimpin oleh Bapak Irfan Haris sebagai imam.

Saturday, 3 August 2013

WIDYA TAMA: Contoh bagi Penulis Jurnal Pendidikan

Oleh: Dian Marta Wijayanti

Kamis, 1 Agustus 2013.
Sebelum memulai perjalanan panjang memang alangkah lebih baiknya jika segala sesuatunya dipelajari terlebih dahulu. Berpegang sebuah amanah dari bapak tercinta untuk mencari informasi Penilaian Angka Kredit di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Tengah. Memberanikan diri adalah fardhu ain di siang yang cukup panas. 

Berawal dari senyum sapa kepada ibu-ibu di lobi kantor LPMP, petunjuk informasi Penilaian Angka Kredit (PAK) mengajak kaki ini melangkah ke bagian kepegawaian. Pencarian pun tidak sia-sia. Info terkait PAK untuk kenaikan pangkat dari IVa ke IVb pun ku dapati. Meskipun sebenarnya info yang tercatat nomor 89351/A4.4/KP/2012 tentang penilaian sudah tidak lagi di LPMP tapi lebih ke dinas kabupaten sudah kami ketahui di pencarian yang sebelumnya. Walau begitu, paling tidak pertemuan singkat di siang itu lebih menguatkan pemahaman kami.

Perjalanan tidak hanya berakhir di kantor kepegawaian, tujuan kedua adalah perpustakaan LPMP. Siang yang cukup panas itu, mempertemukan saya dengan seorang bapak penjaga perpustakaan dengan inisial S. Dari pembicaraan yang kaku, akhirnya banyak juga ilmu yang ku dapati dari beliau. 

"Kebanyakan memang guru-guru di daerah hanya tau penilaian hanya bisa diperoleh dari PTK dan PTS. Padahal sebenarnya pembuatan artikel, penyusunan modul, media, serta simposium juga mempunyai poin. Jadi seorang guru bisa menggunakan satu karya dalam beberapa penilaian. Tidak harus semuanya dalam bentuk PTK"

Pertanyaan tentang PAK masih berlanjut sebagai bekal bagi saya untuk pulang kampung. Bisa bercerita panjang lebar kepada bapak di rumah adalah oleh-oleh yang cukup berharga bagi beliau. Saya pun menyempatkan diri untuk bertanya,

"Dulu bapak saya sudah pernah mengajukan ke LPMP tapi dikembalikan lagi karya ilmiahnya karena masih banyak yang harus direvisi. Bahkan ada judul yang dilingkari dan diberi tanda tanya besar. Kira-kira kenapa ya Pak?" 

Alhamdulillah, bapak yang baik hati ini sepertinya sangat merespon rasa keingintahuan ini.

"Owh, dulu yang mengoreksi saya. Bapake njenengan kepala sekolah kan? Kalau kepala sekolah seharusnya PTS mbak. Kalau PTK itu untuk guru. Nanti disampaikan ke bapak ya kalau sudah sampai rumah. Njenengan beli jurnal pendidikan WIDYA TAMA edisi Hardiknas Mei 2013 saja. Disana ada 15 artikel ilmiah, 5 dari pengawas, 5 dari kepala sekolah, dan 5 lagi dari guru. Insya Allah nanti bisa banyak membantu."

Percakapan cukup panjang masih berlanjut sampai akhirnya terdengar suara adzan Dzuhur. Berjabat tangan dengan beliau dan mengucapkan terima kasih sebagai bentuk silaturahmi di awal perjumpaan menjadi penutup pertemuan di siang itu. 

Perjalanan belum selesai. Koperasi LPMP menjadi tujuan selanjutnya. Setelah jurnal pendidikan WIDYA TAMA berada di tangan, oleh-oleh dari Semarang untuk bapak tercinta pun siap dibawa pulang.

Selamat berjuang bapak
Tidak ada usaha yang sia-sia
:-)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More