This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, 30 January 2013

Kartu Wasis untuk Peningkatan Berbahasa Jawa


Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, artinya suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menyampaikan gagasan, pikiran atau perasaan sehingga gagasan-gagasan yang ada dalam pikiran pembicara dapat dipahami orang lain.
Ironisnya, pembelajaran bahasa Jawa di sekolah, dinilai gagal. Padahal, pelajaran ini erat hubungannya dengan pendidikan budi pekerti dan pembentukan karakter siswa. Sumarlan (2011) mengemukakan, penerapan tingkat tutur (unggah-ungguh) dalam percakapan sehari-hari kini sudah semakin kacau.  
Penggunaan media yang jarang digunakan oleh guru SD dalam pembelajaran Bahasa Jawa, merupakan salah satu akar penyebab rendahnya keterampilan berbicara Bahasa Jawa siswa SD.
Keadaan ini tentu kurang kondusif bagi pembelajaran bahasa Jawa, khususnya bagi anak-anak. Anak-anak sulit memperoleh teladan penggunaan bahasa Jawa yang baik dan benar langsung dari masyarakat. Penggunaan bahasa Jawa dalam lingkungan lingkungan rumah tangga dan hubungan antarpribadi dalam lingkungan masyarakat pun, terkontaminasi pemakaian bahasa Indonesia.
Dalam kajian yang kami lakukan, Kartu Wayang Ssiswa (Wasis) bermanfaat mengetahui efektivitasupaya peningkatan keterampilan berbicara bahasa Jawa di Sekolah Dasar.

Solusi Alternatif
Dibutuhkan solusi alternatif untuk dalam pembelajaran bahasa Jawa. Pembelajaran bahasa Jawasendiri, sebenarnya merupakan tantangan bagi guru untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar (KBM).
Kajian ini kami lakukan dengan menggunakan model penelitian pengembangan dengan langkah-langkah berdasarkan Borg dan Gall dalam metode penelitian pengembangan yang disusun Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional 2008.
Di mana ada lima langkah utama dalam penelitian dengan populasi dalam siswa kelas IV SDN Poncomulyo Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Yaitu melakukan analisis produk yang akan dikembangkan, mengembangkan produk awal, validasi ahli dan revisi, uji coba lapangan skala kecil dan revisi produk, dan uji coba lapangan skala besar dan produk akhir.
Hasil dari  kajian ini, Kartu Wasis cukup signifian dalam meningkatkan perkembangan pembelajaran dan belajar berbicara bahasa Jawa, khususnya untuk materi wayang.
Efektivitas Kartu Wasis terlihat dari keterlaksanaan kegiatan pembelajaran yang berlangsung dengan baik. Dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran Bahasa Jawa sebesar 67,00, siswa telah mencapai ketuntasan sebesar 100%. Baik dari aspek membaca kalimat, menguraikan kata menjadi suku kata, kelancaran membaca, intonasi, serta pelafalan
Akhirnya, sekolah sebagai satuan pendidikan diharapkan selalu berupaya mengembangkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Di sisi lain, pemerintah seyogyanya dapat membantu sekolah mengembangkan kualitas pembelajaran melalui pelatihan-pelatihan kepada guru. Pelatihan-pelatihan yang dapat dikembangkan salah satunya adalah pembuatan media pembelajaran murah, aktif, kreatif, dan inovatif. (*)


Dian M. WijayantiPutri Utami & Nopi S. Susanti,
Ketiganya mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Untuk kelengkapan hasil penelitian ini bisa menghubungi Dian Marta Wijayanti via  HP: 085740145329 atau email: girlsmarta@gmail.com

Es Campur Dalam Kata (Dilema Pembelajaran Bahasa Jawa)

        Panas-panas paling segar memang minum es. Tapi es apa yang akan engkau pilih saat ini? Yupz, salah satu pilihannya adalah es campur. Es campur tidak hanya sebagai pengobat haus, namun es campur juga mampu dijadikan pengganjal perut. Pada kesempatan ini kita akan membahas es campur yang segar untuk diperbincangkan tapi resah untuk dinikmati. Fenomena ini hampir dirasakan oleh sebagian guru yang saya tanyai. Kenyataannya es campur memang berlaku dalam bahasa pengantar pembelajaran Bahasa Jawa. Jika dahulu Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu berfungsi sebagai bahasa pengantar pembelajaran. Justru sekarang ini malah pembelajaran Bahasa Jawa membutuhkan bahasa pengantar tidak hanya di perkotaan namun juga di perkotaan.
        Kejadian ini tidak terjadi begitu saja. Guru tentu memiliki alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karakteristik siswa sangat memperngaruhi sampai terjadinya peristiwa ini. Kebanyakan siswa yang tidak paham penggunaan bahasa Jawa mau tidak mau membutuhkan jembatan bahasa yang lain untuk memahami materi yang diberikan oleh guru. Guru sebagai fasilitator memiliki peran untuk menciptakan pembelajaran Bahasa Jawa yang menyenangkan sehingga siswa dapat mencapai tujuan. Namun pada kenyataannya, tetap saja penggunaan bahasa Indonesia ikut bercampur dalam pembelajaran Bahasa Jawa ini. Bukan berarti guru tidak dapat berbicara Bahasa Jawa dengan baik dan benar. Namun, tanpa bahasa es campur ini siswa akan lebih kesulitan dalam mencapai kompetensi yang seharusnya dicapai.
        Peristiwa ini saya alami juga ketika berstatus sebagai guru PPL di salah satu SD negeri di kota Semarang. Beberapa kali saya mengajar Bahasa Jawa namun hasilnya kurang maksimal. Sebagai guru saya sudah mencoba untuk menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar. Pemilihan tembung-tembung (kata-kata) yang paling sederhana sudah saya gunakan namun siswa masih banyak yang bertanya
"Bu, itu tadi artinya apa?"
"Bu, ngerjainnya pakai bahasa Indonesia saja ya"
Bahkan tidak hanya itu, rusaknya bahasa juga terlihat ketika mereka mencampuraduk antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.
"Bu, ngerjainnya ngeten?"
"Bu, kula ambek XXXXX mawon nggih"
Pemilihan bahasa lisan seperti tersebut di atas kadang tidak disadari ketika mendengarnya. Namun ketika sudah menghadapi bahasa tulis, berbagai bentuk es campur penggunaan bahasa sangatlah terlihat. Apa yang terjadi dengan bahasa kkita?
Mari berbagi solusi ....

Wednesday, 9 January 2013

SKRIPSI ITU RACUN (Sedikit berbagi pengalaman "Ayo lawan Skripsi")

Pagi skripsi, siang skripsi, sore skripsi, malam pun skripsi. Lebih detailnya nih, mau makan ingat skripsi, mau tidur ingat skripsi, bahkan mau mandi juga ingat skripsi. Wah, apa-apaan nih. Ya beginilah rasanya menjadi mahasiswa semester akhir. Salah satu persyaratan kelulusan adalah membuat skripsi. Begitu pula dengan yang sedang ku hadapi sekarang. Ku tulis dengan kapital "SKRIPSI". Mantapz sekali. 
Sejujurnya, keinginan untuk mengerjakan skripsi itu sangat kecil sekali. Rasa malas lebih sering menghampiri daripada semangat membara layaknya anak sekolah yang hendak menghadapi liburan. Tapi apa daya, mau tak mau skripsi harus dikerjakan. Membuang rasa malas adalah PR bagi kami mahasiswa skripsi. 
Aku bukan mahasiswa yang rajin. Aku juga bukan mahasiswa yang pintar. Aku hanya mahasiswa yang punya keinginan untuk segera menyelesaikan tugas skripsiku. Kata "segera" disini bukan berarti cepat tapi meninggalkan kualitas. Tapi quality and speed haruslah seimbang. Pernah ku berpikir apa mungkin bisa? Biasanya kualitas yang bagus membutuhkan waktu yang cukup lama. Tapi sekali lagi ku tekankan pada diriku tak ada yang tak mungkin. Maka dari itu, ku tulis besar-besar dalam catatanku "SKRIPSI itu RACUN". Mengapa demikian?
Tentunya kita semua tahu bahwa racun itu tidak baik dan sangat mengganggu. Seseorang yang terkena racun biasanya akan segera mencari obat atau cara untuk menyingkirkannya tidak hanya dalam waktu yang cepat tapi juga dengan cara sebaik mungkin. Begitu pula denganku. Mencoba menelateni skripsi yang sampai saat ini belum juga seminar adalah semangat yang masih terus menerus ku pertahankan sampai masa mengerjakan skripsi selesai. 
Sedikit berbagi polahku ketika mengerjakan skripsi:
1. Persiapkan referensi sebanyak-banyaknya 
    Memiliki banyak referensi sangatlah penting. Dari pengalaman kakak-kakak kelas, skripsi sering tersendat  karena kurangnya referensi. Maka dari itu, mengumpulkan berbagai referensi terkait judul skripsi kita sebelum membuka laptop adalah jalan pertama. Buku tak harus membeli. Pinjam kesana kemari pun bisa. Kalau buku sudah tersedia di kamar, ketika butuh akan lebih mudah untuk menjangkaunya.
2. Pastikan laptop selalu online
    Memang benar sih, ketika laptop online seringkali kita malah lebih banyak membuka jejaring sosial daripada mengerjakan skripsinya. Tapi bagiku itu tak masalah. Istilah sederhananya facebook dan twitter adalah "tombo ngantuk". Laptop yang selalu online akan membantu ketika sewaktu-waktu membutuhkan referensi tambahan.
3. Gunakan waktu luang untuk tidur
    Sedikit waktu luang ketika mood mengerjakan skripsi sedang jelek lebih baik digunakan untuk tidur. Tidur akan lebih bermanfaat daripada jalan-jalan tak jelas tujuannya. Di saat bangun tidur, badan sudah segar. laptop di samping bantal pun telah siap menanti untuk dikerjakan kembali.
4. Membuat masterplan dalam time table
    Memasang deadline untuk diri sendiri terkadang memang terkesan memaksa. Tapi tabel tersebut secara tidak langsung akan selalu mengingatkan kita untuk segera segera dan segera mengerjakan target yang hendak dicapai.
5. Tak perlu malu bertanya
    Tentunya akan banyak pertanyaan ketika kita menghadapi hal baru. Begitu pula dengan skripsi. Banyak hal yang sebenarnya aku tidak tau. Tanya pada dosen, kakak kelas dan teman adalah jawabannya. Tidak hanya itu, google sebenarnya juga banyak menjawab apa yang menjadi tanyaku.
6. Mussssssssiiiiiiiiikkkk
    Berhubung aku suka dangdut dan campursari. Laptop pun tlah full musik di saat jari-jari ini merangkai kata demi kata dalam skripsi. Musik bisa membangkitkan semangat lho .... Silahkan diisi sesuai genre musik kesayangan teman-teman.
7. Siapkan makanan di kamar
    Tidak hanya musik, makanan pun bisa mempengaruhi mood yang sedang galau karena skripsi. Tak perlu makanan yang berat dan mahal. Cukup beli pilus atau jajan kiloan bisa bertahan beberapa hari kok. Kalau perlu beli yang keras-keras aja biar awet, hehehe ....
8. Mengirim sms dan memajang foto orangtua
   Orangtua adalah cahaya yang paling terang di dalam semangat ini. Ketika malas menyelimuti batin, sms bapak atau ibu bisa menjadi alternatif solusi. Sms yang sederhana-sederhana saja. "Sampun dhahar Bu?" "Bapak nembe nopo?" "Bu, masak nopo?" ... hati kita bisa menjadi senang, rindu orangtua pun bisa terobati. Kalau tidak sms, melihat foto bapak ibu pun terkadang bisa membuat airmata membasahi pipi.
Yach, inilah yang bisa ku bagi. Semoga bermanfaat ya teman-teman. Mari sama-sama berjuang untuk skripsi ini. Demi bapak, demi ibu, dan demi orang-orang yang kita sayang :-)

Tuesday, 25 December 2012

Menjemput Harapan

Manusia adalah makhluk Allah yang jauh dari kata puas. Jauh dari kata syukur. Jauh pula dari kata cukup. Perasaan ingin ini ingin itu ingin sana ingin sini, semua itu tak dapat dihindari sampai semuanya menjadi nyata. 
Tak tertinggal dengan yang namanya harapan. Manusia senantiasa menyimpan harapan dalam hidupnya. Harapan tentang cita-cita, kisah cinta maupun masa depan yang ingin diraihnya. 
Harapan sama hal nya dengan impian. Awalnya direnungkan, ditulis, diusahakan, kemudian menjadi kenyataan. Ada yang sesuai dengan keinginan. Ada pula yang terlempar jauh dari harapan. 
Tersenyumlah ketika harapan yang engkau tuliskan menjadi kenyataan. Ucapkan syukur kepada TuhanMu karena Tuhanlah harapan itu bisa menjadi nyata. Namun bukan berarti hal tersenyum bisa menjadi jalan bagimu untuk menyombongkan diri. Keberhasilan adalah awal dari masalah. Masalah yang akan menjadi beban bagimu selanjutnya. Bisakah keberhasilan itu menjadi sesuatu yang barokah, ataukah hanya bertahan sebagai wujud kesombongan belaka.
Namun, jika harapan itu tak kunjung menjadi nyata. Menangislah sekeras apa kamu bisa menangis. Tidak dapat dipungkiri tangis dari airmata yang menetes memang mampu sesak yang ada di dadamu. Namun setelah itu segeralah berdiri dan jemput harapanmu yang ada di depan sana. Saat ini harapanmu memang belum menjadi nyata. Tapi tanpa engkau tau, bisa jadi harapan itu ada lima langkah di depanmu. Insya Allah keikhlasan akan membawa kita pada jalan menjemput harapan. Amin.

Monday, 15 October 2012

EGRA USAID PRIORITAS

Early Grades Readings Assessment adalah salah satu agenda USAID PRIORITAS pada tahun 2012 ini. Early Grades Readings Assessment yang biasa disebut EGRA bukanlah suatu model pembelajaran melainkan suatu teknik asesmen yang dilatih kan kepada kurang lebih 130 asessor yang hadir pada hari tersebut. Mulai tanggal 24 sampai 28 September 2012 peserta dirapatkan di sebuah Hotel Bintang Lima di ibukota Jakarta. The Sultan Hotel menjadi tempat bagi kami berteduh, menikmati malam, serta mengikuti serangkaian acara dari USAID PRIORITAS.
"Early achievement spawns faster rates of subsequent achievement" (Marton, 1968). Sebuah cuplikan kalimat yang saya ambil dari salah satu slide dalam workshop yang dilaksanakan di ruang B1 Ballroom The Sultan Hotel itu. Keberadaan Peggy Dubeck pada waktu itu benar-benar sangat sangat menyita perhatian peserta. Tidak ada Peggy, salah satu teman Peggy yang bernama Lorna juga memberikan kesan tersendiri bagi setiap peserta yang ada di kegiatan ini. Pelatihan EGRA ditujukan kepada para praktisi pendidikan seperti dosen, guru, mahasiswa, serta aktivis pendidikan. Di acara ini kami berupaya memberikan yang terbaik kepada USAID PRIORITAS.
Sebagai salah satu delegasi dari provinsi Jawa Tengah saya benar-benar sangat bersyukur. Saya meerasa beruntung karena ini adalah kesempatan luar biasa yang pernah saya ikuti. EGRA memberikan pengalaman bagi saya untuk menginjakkan kaki ke ibukota Jakarta. EGRA memberikan kesempatan bagi saya untuk pertama kali menggunakan alat transportasi taksi. EGRA memberi kesempatan pertama bagi saya untuk menikmati perjalanan jauh menggunakan pesawat terbang. EGRA pula lah yang memberi kesempatan bagi saya untuk mengenal orang-orang hebat dari berbagai provinsi di Indonesia. Tak ingin saya menyi-nyiakan kesempatan ini. Pergi membawa identitas provinsi harus bisa berkontribusi bagi Jawa Tengah. Alhamdulillah, di hari setelah uji coba lapangan di SDN 2 Cilegon Bapak Ahmad Sarjito sebagai koordinator EGRA Jawa Tengah mengucapkan "Selamat ya mbak ... Jawa Tengah adalah satu-satunya provinsi yang mempunyai perfect assessment. Dan itu adalah milik mbak Dian ..."
Hati ini sangat bahagia. Semoga ke depannya EGRA memberikan manfaat bagi dunia pendidikan. Mari berkontribusi di provinsi masing-masing. Salam semangat EGRA :-)

Tuesday, 11 September 2012

DONGENG SI KANCIL: KAJIAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS SASTRA

PENDAHULUAN

Menurut UU nomor 20 tahun 2003 disebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Selain bagian dari definisi pendidikan di Indonesia, bagian kalimat tersebut juga menggambarkan tujuan pendidikan yang mencakup tiga dimensi yaitu dimensi ketuhanan, pribadi dan sosial. Artinya, pendidikan bukan diarahkan pada pendidikan yang sekuler, non individualistik  dan nonsosialistik. Tapi dari definisi pendidikan ini, pendidikan yang diarahkan di Indonesia itu adalah pendidikan mencari keseimbangan antara ketuhanan, individu dan sosial. Jika dipahami lebih jauh, dalam UU ini sudah mencakup pendidikan karakter. Misalnya pada bagian kalimat terakhir dari defenisi pendidikan dalam UU tentang SISDIKNAS ini, yaitu memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 ayat (1) menyatakan “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.
Menurut McCarrol (Megawangi, 2007:5) karakter terbentuk karena latihan setiap hari. Hal tersebut sesuai dengan arti karakter secara bahasa yaitu “mengukir”, dalam kegiatan mengukir dibutuhkan proses, keahlian serta ketelitian pengukir sehingga menghasilkan ukiran yang kokoh begitupun dengan proses pembentukan karakter individu yang harus dilakukan sejak dini sehingga karakter tersebut melekat kuat dalam diri individu. Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis. Hal ini ditunjukkan pada permasalahan yang terjadi di Indonesia bahwa sekarang ini generasi muda kurang siap menyikapi masuknya budaya dan bahasa asing. Akibatnya tren kecintaan terhadap bahasa nasional kian menurun bahkan memprihatinkan di kalangan muda. Penurunan tersebut menurut Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan(Agus darma) disebabkan oleh kurangnya penggalian dan pemanfaatan nilai-nilai bahasa dan sastra.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Sub Bagian Humas Polres Magetan mencatat ada kenaikan 50 persen pelaku tindak kejahatan di Magetan masih berusia anak. Jumlah tersebut merupakan perbandingan angka antara tahun 2010 dengan medio 2011. Kasus yang lain adalah tercatat pada tanggal 24 Agustus 2009 dua anak tertangkap satpam mencuri helm di parkiran RSBT. Menurut pelaku, ini merupakan aksi yang kedua kalinya. Pada aksi yang pertama helm dijual seharga lima puluh ribu rupiah. Pelaku mengaku mencuri karena butuh uang jajan. Kemudian pada tanggal 27 Agustus 2009, remaja putus sekolah tertangkap basah mengambil makanan ringan, sebungkus rokok dan uang belasan ribu dari sebuah warung di kelurahan Pintu Air Pangkalpinang.
Beberapa kasus di atas memperlihatkan bahwa pendidikan karakter sangat penting untuk diberikan kepada anak sedini mungkin. Salah satu cara menanamkan karakter bangsa kepada anak didik adalah melalui sastra. Fungsi hakikat sastra adalah menyenangkan dan berguna: dulce et utile(Pradopo, 2007:61). Sastra dengan sifatnya yang menyenangkan dan berguna diharapkan mampu ikut berperan aktif dalam membangun karakter bangsa Indonesia. Melalui bermain, anak memiliki kesempatan untuk membangun dunianya berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungan sosial, mengekspresikan dan mengontrol emosinya, serta mengembangkan kecakapan simboliknya.
Pembelajaran sastra di SD adalah Pembelajaran sastra anak. Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 6-13 tahun. Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan berdasarkan pada fakta. Menurut Noor (2011:37) Sastra anak adalah citraan dan atau metafora kehidupan yang disampaikan kepada anak yang melibatkan baik aspek emosi, perasaan, pikiran, saraf sensori, maupun pengalaman moral, dan diekspresikan dalam bentuk-bentuk kebahasaan yang dapat dijangkau dan dipahami oleh pembaca anak. Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas.
Beberapa  bentuk sastra anak diantaranya adalah dongeng. Dalam penelitiannya, McClelland menemukan dongeng dan cerita anak Inggris abad ke-16 mengandung 'virus' yang menyebabkan pembaca atau pendengar terjangkit penyakit The need for Achievement (Kebutuhan Berprestasi) yang kemudian terkenal sebagai n-Ach. Sedangkan cerita dan dongeng Spanyol justru meninabobokan rakyatnya. Hal ini berbeda dengan dongeng di Indonesia. Pro kontra masih saja bergulir seiring menanggapi keberadaan dongeng tokoh si kancil yang sering diberikan kepada anak baik itu di rumah maupun di sekolah. Dengan memperhatikan berbagai unsur karakter yang terkandung di dalam dongeng, kekhawatiran justru terjadi jika dongeng si Kancil masih saja diberikan kepada anak-anak. Ismail Marahaimin, guru besar Fakultas Ilmu Budaya UI, dalam makalahnya yang berjudul "Pembekalan pada Bengkel Penulis Cerita Anak," mengaitkan antara kepopuleran cerita si Kancil di Indonesia. Kancil adalah sosok binatang yang licik. Maka dari itu, pengakajian terhadap karya sastra yang diberikan kepada siswa di Sekolah Dasar masih perlu diperhatikan terutama dalam menanggapi dongeng si Kancil agar menjadi tokoh teladan bagi siswa Sekolah Dasar dalam pembentukan karakter.


ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan  makna yang sama dengan  pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk  pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan   warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga   masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat    atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang  banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena  itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni  pendidikan nilai-nilai luhur   yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka  membina kepribadian generasi muda.
Berdasarkan buku Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter  yang diterbitkan oleh badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan (2011), telah teridentifikasi 18 nilai-nilai karakter yang bersumber pada agaman, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, dan (18) Tanggung Jawab.
Jauh sebelum studi anak dilakukan, kenyataan menunjukkan bahwa tahun-tahun pertama merupakan saat yang kritis bagi perkembangan anak. Dalam hal ini Milton (dalam Soeparwoto, 2004:31) menyatakan bahwa “Masa kanak-kanak meramalkan masa dewasa, sebagaimana pagi hari meramalkan hari baru”.
Studi klinis sejak bayi hingga dewasa yang dilakukan oleh Erikson (dalam Soeparwoto, 2004:31) menyimpulan bahwa “masa kanak-kanak merupakan gambaran awal manusia sebagai manusia, tempat dimana kabaikan dan sifat buruk akan berkembang mewujudkan diri, meskipun lambat tetapi pasti”. Crumley, F.E. dkk, Gagne R.M dan Smith, dkk (dalam Soeparwoto, 2004:32) menunjukkan bukti bahwa sejarah anak yang mempunyai kesulitan penyesuaian sejak tahun-tahun prasekolah hingga sekolah menengah atau universitas telah memperlihatkan bahwa banyak di antara mereka sangat buruk penyesuaian dirinya pada masa kecil sehingga tidak pernah dalam suatu kelompok atau mempunyai banyak teman.
Penggunaan dongeng untuk pembentukan karakter bagi anak sudah lama digunakan. Salah satu dongeng yang paling terkenal di kalangan anak-anak adalah “Kancil Nyolong Timun” atau dalam bahasa Indonesia artinya Kancil Mencuri Mentimun. Dalam cerita yang dikisahkan dalam dongeng tersebut menunjukkan karakter Kancil sebagai pencuri yang licik untuk mendapatkan yang dia inginkan. Karakter licik dari tokoh Kancil sangat tertanam kuat dalam diri Kancil. Tidak hanya pada tokoh Kancil, tokoh Pak Tani pun tergambar memiliki karakter yang kuat. Hal ini ditunjukkan ketika Pak Tani mengetahui mentimunnya dicuri oleh Kancil. Tanpa memberi ampun Pak Tani menghukum Kancil dengan memukuli dan mengurung Kancil di dalam keranjang. Tokoh  Kancil lebih banyak memperlihatkan karakter tercela yang ditakutkan dapat dicontoh oleh anak. Hal ini dikarenakan anak tidak dapat langsung menerima nilai yang sebenarnya terkandung di dalam dongeng. Melainkan yang nyata terlihat adalah karakter nakal, pembohong, licik, dan banyak tipu muslihat dari tokoh kancil. Sebagai contoh di dalam dongeng “Si Kancil dan Buaya”, Kancil dengan liciknya membohongi buaya agar bisa menyeberangi sungai. Namun dari sisi lain sebenarnya dapat pula diambil pesan tentang kepandaian Kancil untuk melindungi dirinya dari musuh. Hanya saja, cara yang digunakan Kancil dapat dianggap kurang sesuai karena merugikan pihak lain.
Keberadaan dongeng Kancil yang pada saat ini sering menjadi perdebatan akademisi dunia pendidikan perlu mengalami revitalisasi agar tetap menjadi dongeng yang disukai anak dan mengandung nilai-nilai yang berguna bagi pembangunan karakter mereka. Proses pengubahan karakter tokoh Kancil dapat disesuaikan dengan grand design pendidikan karakter yang akan dibangun pada diri anak.
Khusus bagi anak, dongeng dapat memberikan rangsangan bagi kecerdasan anak, karena melalui kegiatan bermain, bercanda, dan berinteraksi, maka kemampuan berpikir logis dan rasional akan terpacu sehingga membantu percepatan belajar anak (accelerated learning). Dampak positif yang nyata pada anak adalah munculnya perkembangan dan kemampuan emosi (emotional quotion) anak dengan sendirinya (tanpa paksaan) sehingga akan terbentuk sikap kreatif, ramah, mudah bergaul, spontan dalam merespons sekitarnya, dan terbangun empati pada lingkungan dan orang lain yang ada disekitarnya.

SIMPULAN

Dongeng merupakan salah satu bentuk sastra yang memiliki peran besar dalam pembentukan karakter anak. Berbagai karakter yang terdapat dalam dongeng akan mempengaruhi pemikiran anak untuk meneladani tokoh tersebut. Namun beberapa dongeng yang menceritakan kisah si Kancil bagi sebagian pihak merupakan dongeng yang tidak sesuai diberikan kepada anak. Kancil dengan tingkah nakal dan liciknya dapat mempengaruhi perkembangan anak yang belum bisa mencerna isi cerita lebih dalam. Kelicikan Kancil untuk melemahkan musuh-musuhnya dapat dianggap sebagai kepandaian Kancil dalam mengatur strategi. Padahal hal tersebut merupakan karakter tercela yang tidak seharusnya ditiru oleh anak. Maka dari itu pemilihan karya sastra apapun khusunya dongeng bagi anak perlu melalui tahap filtrasi agar tidak semua dongeng diberikan kepada anak. Hal ini bukan berarti dongeng si Kancil mengandung makna negatif. Bagi mereka yang sudah mampu mengapresiasi sastra dengan baik, cerita si Kancil memiliki nilai-nilai positif seperti pandai, kreatif, inovatif, dan pantang menyerah. Namun bagi anak-anak yang belum bisa mengapresiasi sastra dengan baik, sikap si Kancil dapat dianggap sebagai tokoh panutan yang dapat dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan ketika mereka dihadapkan pada masalah.

DAFTAR PUSTAKA

Harini, Sri dan Aba Firdaus. 2003. Mendidik Anak Sejak Dini. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Antoro, Billy. 2011. Kegiatan Sastra Dukung Pendidikan Karakter. http://dikdas.kemdiknas.go.id/content/berita/utama/kegiatan-sas-2. diunduh pada tanggal 29 Juni 2012 pukul 17:35

Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester
Mata Kuliah Penulisan Karya Ilmiah dan Buku Ajar
Dosen Pengampu Bapak Sukarir Nuryanto

Saturday, 1 September 2012

PGSD FIP Unnes adalah Anugerah

PGSD, Mungkin sebagian orang belum memahami apa itu PGSD?
PGSD merupakan singkatan dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Sesuai singkatannya  jurusan ini merupakan tempat bagi seseorang untuk belajar menjadi guru Sekolah Dasar. PGSD juga merupakan salah satu jurusan unggulan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Semarang. Pada dasarnya PGSD dikatakan unggulan karena setiap tahunnya jumlah pendaftar PGSD selalu berada pada urutan teratas dari segi kuantitas.
Berbagai keunikan akan di dapatkan ketika seseorang memasuki PGSD. Bisa dikatakan lebih dari unik, banyak orang yang shock dan terkesima ketika mereka mengetahui bahwa kampus PGSD UNNES ternyata terpisah dari kampus pusat yang ada di Semarang. Kampus PGSD FIP UNNES terpisah ke dalam dua bagian, di Semarang dan Tegal. Kampus PGSD UNNES Semarang beralamatkan di Jalan Beringin Raya No.15 Wonosari, Ngaliyan. Sedangkan kampus PGSD UNNES Tegal beralamat di jalan Kol.Sugiono 17 Tegal. Alhamdulillah, sejak 2 tahun yang lalu Allah memberikan kesempatan bagi saya untuk belajar di kampus PGSD UPP Semarang.
Jujur saja, awalnya kaget ketika pertama kali melihat keadaan kampus yang jauh berbeda dengan keadaan kampus pusat yang ada di Sekaran. Tapi setelah beberapa lama berada disana. Hanya perasaan nyaman dan kenikmatan yang dirasakan. Terkadang perasaan iri ingin memiliki kampus seperti di Sekaran memang dirasakan. Tapi, setelah saya pikir-pikir. Kampus yang sekarang memang sesuai bagi calon guru sekolah dasar. Rasa kekeluargaan sangat terasa di lingkungan kampus PGSD. Tidak hanya antar mahasiswa. Namun antara lembaga kemahasiswaan HIMA, KSR PMI, PRAMUKA, dan ROHIS FIRDAUS semuanya menyatu dengan satu tujuan untuk memajukan PGSD tercinta. Alhamdulillah tahun ini PGSD sudah mendapatkan akreditasi B oleh BAN PT.
Dapat dikatakan mahasiswa PGSD adalah mahasiswa multitalent. Mengapa saya dapat berkata demikian? Mahasiswa PGSD tidak hanya mempelajari materi Matematika, IPA, IPS, Bahasa, PKn, dan Agama saja. Namun berbagai ketrampilan juga wajib dikuasai oleh mahasiswa PGSD. Diantaranya adalah Penjaskes, Seni Drama Tari, Seni Musik, Seni Rupa, dan KTK. Saya yakin hanya jurusan PGSD yang dapat merasakan berbagai ketrampilan ini dalam satu jurusan saja.
PGSD merupakan anugerah. Karena disinilah saya bisa bertemu dengan dosen-dosen yang dengan sabar membimbing saya dalam mengikuti perkuliahan. Kutemukan juga sahabat sejati, kakak-kakak yang kucinta, dan rekan-rekan organisasi yang memberiku banyak pengalaman yang belum pernah kutemukan sebelumnya. Sempat terpikir dengan kondisi kampus yang terpisah seperti ini saya tidak bisa mengembangkan hobi untuk menulis. Tapi saya salah besar. Justru disini jalan untuk belajar menulis terus terasah dalam berbagai kompetisi yang diselenggarakan baik dari lembaga universitas maupun lembaga luar universitas. Subhanallah, hari-hariku semakin hidup untuk selalu belajar disini.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More